Mengenai Saya

Foto Saya
taufiq nur marhendra
tak ada sesuatu yang mesti saya jelaskan dari saya! karena saya ingin anda membaca blog saya dan menilai sendiri seperti apa saya yang sebenarnya
Lihat profil lengkapku

online bisnis

[ Rabu, 19 Agustus 2009 | 0 komentar ]
Billigt internet

make money online Read the full story »
,

KPK VS PEJABAT KORUP

[ Senin, 10 Agustus 2009 | 17 komentar ]


INDONESIA pernah bangga dengan adanya badan hukum KPK untuk memerangi korupsi di negeri ini. Prestasinya yang cukup gemilang memberikan harapan bagi rakyat untuk menjadikan indonesia sebagai negara yang bersih dari tindak korupsi. Badan milik negara yang satu ini tidak tanggung-tanggung dengan aksinya, alat-alat canggih seperti penyadap dan hiden kamerapun digunakan untuk membantu mengungkap praktek korupsi di Negara ini.

Pejabat-pejabat korup yang ada di pemerintahan pun di gelandang dan diadili secara masal, badan hukum yang tak tersentuh oleh koruptor ini pun menjadi bahan studi oleh beberapa negara lain. dan pada akhirnya KPK pun mendapatkan pengakuan atas kevektifannya dalam memberantas korupsi oleh masyarakat di Indonesia dan masyarakat luar.

Tetapi saat ini KPK harus menjawab tantangan para musuh-musuhnya, dari berbagai masalah yang saat ini menyerang KPK. awal-awal perlawanan para musuh KPK ini sudah bisa dicium ketika Antasari harus mendekam di penjara karena tuduhan pembunuhan.bukan hanya itu saja tuduhan-tuduhan miring pun terus menyerang KPK, seperti kasus korupsi oleh para pejabat KPK yang di berikan di media televisi.
kita sebagai masyarakat awam tidak pernah tahu apa yang terjadi di atas sana, apalagi sekarang ada isu yang membuat kita tidak tahu harus mempercayai yang mana?siapa lagi yang kan kita percayai sekarang?entahlah?
Kita hanya bisa menerima kalo katanya Si Embah adalah "terimo ing pandom" yang artinya menerima apa kata nasib....
bagaimanapun kita harus tetap mendukung keputusan pemerintah karena kita adalah rakyatnya..

Himne Aksi Para Keparat
Birahi kotor bangsat yang menyengat
kini hilang tak terlihat
Tiduri harkat dan martabat
dengan tabiat yang melarat

Biar jantung kami berdebar
dan berikrar, bergelegar
Kami tak takut dengan gelar
untuk sesuatu yang benar

10 Agustus 2009, M.TN

Read the full story »
, ,

WS. Rendra Wafatnya Si Burung Merak

[ Jumat, 07 Agustus 2009 | 3 komentar ]
Lewat tengah malam berita mencengangkan datang dari dunia seni kita. Si burung merak, penyair sastrawan serta budayawan WS. Rendra harus berpulang menemui kedamaiannya di sisi Tuhan.

WS. Rendra merupakan sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa ini, karya-karyanya yang selalu bertemakan sosial dan yang selalu mengkritik tajam menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap menjaga bangsa ini agar terus maju tanpa ada halangan dari siapapun termasuk pemerintah. Puisinya yang menggelora selalu menyuarakan keadilan bagi rakyat yang tertindas karya-karaya yang terkenal adalah balada orang tercinta, bersatulah pelacur-pelacur kota jakarta, burung kondor, sebatang lisong, hai kamu dan masih banyak yang lainnya.
Beliau meninggal pada usia 74 tahun dan dimakamkan di bengkel teater. Sungguh ironis yang terjadi ini setelah mbah Surip mewasiatkan untuk di makamkan di bengkel teater sekarang adalah WS. Rendra , jika di buat hiperbolanya adalah “seakan-akan Rendra menerima ajakan mbah surip untuk menemaninya di alam lain sebagai seorang sahabat sejati”
Sungguh kita telah kehilangan dua seniman terhebat di negeri kita ini, walaupun mereka memiliki karakter yang berbeda tetapi mereka akan menjadi sebuah legenda untuk kita semua.

Sajak Hai Kamu
Karya WS. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
Intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
Noda di dalam pergaulan antar manusia,
Duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978

Sajak di atas seolah-olah sangat sesuai dengan keadaan sekarang di mana Rendra sekarang mendapatkan ketenangannya terlepas dari himpitan-himpitan yang mengekangnya dan terbang menuju ke langit bersama awan-awan sebagai burung merak yang berkemilauan di cahaya senja...
Selamat tinggal Rendra...
Selamat tinggal putra seni...
Selamat tinggal Si Burung Merak...

Read the full story »

Diam Itu Emas???

[ Selasa, 23 Juni 2009 | 28 komentar ]
Sebelum membaca artikel saya di bawah ini apakah anda Pernah mendengar pribahasa “diam itu emas” ? jika belum sebaiknya anda cari kamus bahasa Indonesia terlebih dahulu, trus cari dech arti pribahasa tersebut hehehehe…

Teknologi Informasi yang semakin berkembang seperti sekarang ini bukan hanya memberikan dampak positif saja, tetapi juga banyak dampak negatifnya. “Mending tidak usah di sebutkan dampak negatifnya” saya yakin semua penggila dunia maya pasti tahu dampak negatifnya. Bahkan anda mungkin juga pernah memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang negative.

Ternyata hal tersebut juga menjadi salah satu perhatian pemerintah kita, salah satunya dengan mengeluarkan UU IT. Bersamaan dengan itu pemerintah juga mengeluarkan UU yang menjadi pendukung UU tersebut, yaitu UU yang menyangkut pencemaran nama baik.


Beberapa waktu yang lalu ada kasus yang menimpah Ibu Prita dengan elektronik mailnya. Curhat ibu Prita tersebut menajadi boomerang bagi dirinya, dan menjadi berita panas yang saat itu. UU yang seharusnya menjadi pelindung bagi pengguna teknologi malah menjadi sesuatu yang sangat di takuti, sesuatu yang mengekang untuk menyampaikan pendapat.

Coba bayangakan jika kita ingin mengkritik sesuatu yang tidak benar dan tiba-tiba kita teringat sama kasusnya bu Prita, pasti serem
banget tuch. Oleh sebab itu sekarang kita harus pandai-pandai menjaga kata. Maka patutlah jika pribahasa “diam itu emas” menajadi sesuatu yang patut kita pertimbangkan, atau jika saya boleh menggantinya mungkin akan saya ganti dengan “diam itu aman” hehehehe…


Perhatian :
Artikel ini bukan bukan di tujukan untuk seseorang dan tidak digunakan untuk mengkritik siapa saja. Artikel ini hanya sebagai bahan bacaan penghibur(bagi yang merasa terhibur pastinya….hehehehe), jika ada yang tersinggung atau merasa dikritik, secara pribadi penulis memohon maaf sebesar-besaranya “Minnalaidin Walfaidin - mohon maaf lahir dan batin….” (kayak lebaran aja)
Read the full story »

"Layang" Karya Aiia Niha Ni'mah

[ Rabu, 10 Juni 2009 | 24 komentar ]
Aiia Niha Ni'mah namanya, temanku yang satu ini jago banget buat puisi karya yang di buat oleh nya di kemudian.com cukup mumpuni. Salah satu karyanya adalah “lajang” sebuah cerita singkat, Karya yang patut untuk di acungi jempol, sebuah cerita singkat dalam satu waktu yang di kemas dengan balutan hiperbola yang indah, sebuah cerita yang membangkitkn imaji seseorang...

susunan kata yang cukup apik, membuat cerita ini muncul menjadi sebuah sajak dengan tema cerita yang cukup jelas. Walaupun tanpa sebuah prolog cerita ini mampu memberikan gambaran kita tentang isinya.

Mungkin jika kita membacanya akan terlihat seperti sebuah puisi yang begitu jelas isinya, tapi ini bukan sebuah puisi. Dan dengan ijin si penulis dan tanpa mengurangi serta merubah isinya saya persembahkan karyanya yang menurut saya patut untuk diperhitungkan...hehehehe (moga-moga ja loe bisa jadi)

Inilah karyanya yang berjudul “layang” :

Kekasih, aku hanya ingin kembali menyapamu lewat balutan kata-kata tak beratur dalam suratku ini. Tapi aku tak memaksamu untuk membacanya, sebab aku pun enggan mendapati dukamu kembali terangkat dan membumbung ke langit-langit kamar tidur. Tak apa-apa mulai nanti malam aku terpaksa tidur dalam posisi yang membelakangimu, karena dengan begitu tak ada linang air mataku yang merembes pada bantal dan membangunkan dengkur nyenyakmu. Namun tak perlu kau pedulikan ini. Toh, hati kita sepertinya sedang tak bisa toleransi.

Kekasih, kemarin hujan mendatangi rumah kita lagi. Aku yakin kau bisa mendengar betapa derasnya ia tadi malam, jatuh mengetuki atap hingga mataku tak bisa terpejam tuk melepas kantuk yang telah memenuhi sudut tepinya. Aku tau kau pun tak dapat memejamkan kelopak matamu, meski tak ada gerak putar tubuhmu yang memungkinkan terjadinya tukar pandang antara kau dan aku. Tak mengapa, aku sudah belajar untuk tidak terlalu kecanduan akan acak lembutmu yang biasa kau daratkan ke atas kepalaku. Setidaknya aku sudah mencoba untuk belajar, walau tak ada satu kemungkinan terhidang bagiku untuk menghentikan rasa candu itu.

“Aku suka hujan,” dulu pernah bukan, kututurkan secuat kalimat ini di hadapanmu? Aku masih sangat ingat kala itu tangan kita saling berpegangan erat.

“Aku tak suka hujan,” kau membalasku. Pandang tajam terpancar lurus dari sorot tatapanmu. Mungkin ini pertanda awal tentang keterbedaan besar yang tercipta antara kita. Mungkin juga saat itu seharusnya kita telah sadar betapa takdir terlalu agresif mencatat namaku dalam halaman-halaman terselip hidupmu.

Ah, kekasih, kemarin kucoba untuk mengerat sepotong malam untukmu, lengkap dengan sinar keperakan bulan juga gemerlap bintang gemintang. Sebenarnya aku lebih menyukai senja, ada banyak semburat jinga yang bisa kuberikan padamu andai aku mampu memperoleh sebagian kecil dirinya. Namun ternyata senja lebih dulu hilang, sayangku. Potongannya tak kutemu di angkasa sana, tersisa satu ruang hampa tak bernama. Barangkali ada pasangan lain yang mendahului kita menyayat senja. Barangkali mereka pasangan yang lebih bahagia dan layak mendapatkannya.

Tak apa lah, ini untukmu, sekerat malam dalam genggaman. Maaf, betuknya sangat tak karuan, di sana-sini bahkan dengan gampang dapat kau temui sobekan. Aku tak pernah mahir menggunakan tanganku sekarang. Kau lihat saja, jemariku tumpul. Air mataku telah lancang mengikis tepi-tepiannya. Tetapi kupikir kau tak perlu ambil peduli akan jemari –yang dulu pernah menyelinap ke dasar-dasar romansamu- ini. Sebab lagi-lagi, sayang, hati kita sepertinya sedang tak bisa toleransi.

Maka, adalah paket kecil berisi potongan malam beserta secuil kecil rasa sayang dariku yang kiranya kukirimkan untuk teman sarapanmu tadi pagi. Bungkusnya sengaja kububuhi tinta warna-warni, agar kau berpikiran aku baik-baik saja di sini. Namun aku sungguh tidak memintamu untuk menerima atau bahkan menyimpannya di lemari pajang kamar kita. Lagipula aku sangsi, apa kau tak membenci gambaran malam yang gelap gulita, membutakan apa-apa. Bukankah ujarmu, kita jauh tak sama? Dan aku telah menarik sebuah kesimpulan, bahwasanya apa yang kau katakan itu benar. Artinya setiap benda yang kudamba, itu pula yang kau cerca. Memang ketidaksamaan rasa berbalut egoisme individual ini lah yang telah mengantarkan kita pada akhir kronologi. Itu sebabnya aku menangis. Tapi kuingatkan kembali, kau tak perlu ambil peduli.

Kekasih, adalah nafasku yang kini jatuh satu-satu, mengikuti alur tubuhmu nan kian menjauh dariku. Aku tak tau lagi harus berkata bagaimana di hadapanmu, bukankah jasadmu tak sudi lagi berbalik menatap ke ranjang kita yang tak lagi berpenghuni? Lagipula jemariku kian tumpul, tergerus menepi, tak lagi dapat menghasilkan satu puisi berarti. Tetapi akan selalu ada tapi di setiap sajakku. Tetapi ada tapi yang menyanggah segala keegoisan kita. Tetapi mungkin saja kita pernah ada bersama di masa lalu. Atau juga masa depan, kekasihku. Tapi, ya, kau tau selalu ada tapi untuk ini. Dan tetapi tidak ada kebersamaan kita di masa sekarang ini. Telah terlalu banyak tapi, kekasih. Tapi ini adalah tapi yang paling menyakitkan sudut mataku setiap kali kuteringat itu.

“Aku mencintaimu.”

Mudah sekali, kan, sayang? Tapi haruskah kuingatkan lagi, kau sungguh tak perlu peduli tentang ini.

Sungguh.

“the end”

Tulisan seperti itulah yang saya idam-idamkan untuk bisa saya buat.
Hebatnya sang penulis ini masih berumur belasan tahun dan dia baru saja duduk di bangku SMA. Temanku si empunya tulisan ini sekarang lagi sibuk membuat sebuah cerpen di kediamanya Bantul.
Read the full story »